Kareumbi. Hmm.. Tujuan kami selanjutnya di Minggu pagi yang cerah ini. Setelah membenah segala macam rupa peralatan dan perbekalan yang harus di bawa, kami siap untuk berjalan menuju gunung dengan ketinggian ±1763m dpl. Menggunakan sebuah angkot 04 berisikan sebelas orang peserta dan carrier yang menumpuk di dalamnya, kami pun berangkat pukul 07.00.
Sepanjang perjalanan, kami membicarakan hal-hal apa saja yang nanti akan kami lakukan di sana, bagaimana kedaan di sana dan apa yang akan terjadi di sana. Canda tawa menemani perjalanan kami meskipun waktunya tidak sesuai dengan ROP. Seharusnya kami berangkat pukul 06.15, tapi karena angkotnya telat datang, maka kami berangkat lebih lambat satu jam dari ROP. Di perjalanan pun kami mengalami hambatan, karena adanya pasar mingguan di daerah Cicalengka ditambah lagi dengan arus kendaraan bermotor yang lalu lalang di sekitarnya, menambahkan kemacetan saat itu, sehingga kami tiba di pintu masuk Kareumbi pada pukul 08.45. Dengan patungan Rp15000 untuk membayar angkot dan Rp5000 untuk membayar tiket masuk ke Kareumbi, kami pun melanjutkan perjalanan untuk masuk ke sebuah saung yang berada tidak jauh dari pintu masuk Kareumbi. Di sana terdapat akang dan teteh panitia. Kami di bekali peta kelompok dan peta individu.
Kami ditugaskan oleh Kang Ilham untuk mencari titik-titik koordinat yang disebutkan olehnya. “Catat !. Titik awal BT: 1070 54’ 45’’, LS: 070 56’ 49’’. Titik belok 1, BT: 1070 54’ 40’’, LS: 070 56’ 36’’. Titik belok 2, BT: 1070 54’ 47’’, LS: 070 56’ 28’’. Titik belok 3, BT: 1070 54’ 55’’, LS: 070 56’ 23’’. Titik belok 4, BT: 1070 54’ 59’’, LS: 070 56; 17’’. Titik bivak, BT: 1070 55’ 5’’, LS: 070 56’ 12’’. Itu untuk hari pertama. Hari kedua sekarang, catat. Titik belok 5, BT: 1070 55’ 10’’, LS: 070 56’ 16’’. Titik belok 6, BT: 1070 55’ 22’’, LS: 070 56’ 16’’. Titik belok 7, BT: 1070 55’ 31’’, LS: 070 56’ 11’’. Titik belok 8, BT: 1070 55’ 33’’, LS: 070 56’ 25’’. Dan titik akhirnya BT: 1070 55’ 24’’, LS: 070 56’ 59’’..”, perintah Kang Ilham. “Sok, ngumpul sama kelompoknya. Diskusikan titik-titiknya ada di mana aja, medan apa saja yang akan kalian lewati, jaraknya berapa, dan interval dari setiap kontur berapa. Saya kasih waktu sampai jam setengah sepuluh”, lanjutnya. Oke ! Kami pun membentuk sebuah lingkaran kecil per kelompok. Kami adalah kelompok regu 1, terdiri dari Rangga sebagai ketua, Dina, Tika dan Basthun. Kami mulai menghitung data-data yang diminta oleh Kang Ilham. Sempat terjadi pertengkaran lucu antara Rangga dan Basthun. Rangga yang dari tadi bersemangat untuk menghitung jarak dan ketinggian di setiap titik yang telah ditentukan oleh Kang Ilham selalu kedahuluan sama Basthun. “Ah, bete gue. Males ngitung ah. Jangan cepet-cepet napa, Stun. Gue belum kelar ngitung, lo udah dapet aja hasilnya”, keluh Rangga. Kami pun hanya tertawa melihat ia kesal karena hasil hitungannya selalu kalah cepat dengan Basthun. Akhirnya waktu yang diberikan pun habis. Kami sudah selesai mendapatkan data-datanya meskipun ada beberapa titik lagi yang belum kami ketahui ketinggian dan jaraknya. Lalu kami diajak oleh Kang Ilham menuju ke sebuah lembahan. “Lihat kanan kiri kalian. Semuanya puncakan. Berarti sekarang kita ada di sebuah lembahan. Sok, sekarang cari koordinat tempat kalian sekarang berada. Bidik puncak-puncak gunung yang ada, habis itu di cek, sama gak kayak di peta. Ayo, semuanya bergerak”, perintah Kang Ilham. Kami pun mulai bergerak untuk mencari titik-titik puncak gunung yang terlihat oleh kami. Setelah menghitung-hitung sudut dan menarik garis di antara kedua puncak gunung, akhirnya kami menemukan titik tempat kami berada. Saat kami tanyakan kebenarannya kepada Kang Ilham, ternyata salah. Sempet kesel sih, tapi ya coba lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Sesuai dengan ROP, jadwal sekarang adalah ISOMA (Istirahat Solat Makan). Kami pun membagi-bagi tugas. Rangga dan Basthun mencari titik koordinat, Dina dan Tika menyiapkan makan siang. Sekitar dua kotak parafin dan dua gelas air kami habiskan untuk memasak beras setengah nesting. Setelah matang, para lelaki itu pun datang kembali. Dan kami menikmati nasi yang telah matang bersama ¾ kaleng kornet. Meskipun makan hanya dengan kornet, tapi rasanya luar biasa, mungkin karena kebersamaan yang kami rasakan menambah kenikmatan makan siang saat itu.


Setelah makan siang, kami membereskan peralatan-peralatan ke dalam carrier masing-masing. Basthun dan Rangga telah menemukan titik koordinat mereka yang baru. “Gue yakin, sekarang bener”, kata Bashtun. Kami pun pergi menuju Kang Ilham untuk mennyakan kebenaran koordinat kami kembali. Di perjalanan, kami melihat tempat penangkaran rusa. Menurut data yang kami peroleh, jenis-jenis fauna yang ada di kawasan TB G. Masigit Kareumbi antara lain: Babi hutan (Sus vitatus), Rusa Tutul (Axis axis), Kijang (Muntiacus muntjak), Anjing hutan (Cuon javanica), Macan tutul (Panthera pardus), Kucing hutan (Felis bengalensis), Ayam hutan (Gallus sp), Kukang (Nycticebus coucang), Bultok (Megalaema zeylanica), Kera (Macaca fascicularis), Lutung (Tracypithecus auratus) dan Burung Walik (Chalcophals indica). Sesampainya di tempat kang Ilham, kami mulai menanyakan koordinat yang telah kami peroleh. Ternyata kurang tepat jawabannya. Karena semua koordinat dari kelompok lain juga kurang tepat, maka kami diajak oleh Kang Ilham naik ke arah perkebunan penduduk. Ternyata di sana lebih terlihat jelas puncak-puncak gunungnya. “Sok, sekarang semuanya ikut nyari koordinat. Gak ada pembagian tugas masak lagi. Semuanya harus punya koordinatnya!”, tegas Kang Ilham. Basthun dan Rangga sudah melejit jauh naik ke atas. Dina dan Tika mencari koordinatnya masing-masing. Setelah beberapa menit, Kang Ilham mengumpulkan kami lagi sesuai dengan kelompok kami masing-masing. Dengan sebentar berdiskusi, akhirnya kelompok kami memutuskan untuk menggunakan koordinat milik Rangga dan Bashtun. Satu per satu kelompok ditanya mengenai titik koordinatnya. Akhirnya kang Ilham mengambil sebuah keputusan. “Kita menggunakan titik koordinat regu satu karena itu titik yang paling dekat dengan titik awal kita. Tepuk tangan dulu dong”, kata kang Ilham. Rasanya bangga gitu koordinat kami dijadikan sebagai pacuannya. Salutlah buat The master of Navdar regu 1, Basthun.
He he. Kami pun menacari jalan menggunakan metode man to man. Sekitar empat ratus meter, kami berjalan, akhirnya kami tiba di titik awal. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju titik belok satu. Kami tiba di sana sekitar pukul 16.30. Seharusnya jam segitu kami sudah tiba di puncak atau titik bivak yang ditentukan. Namun karena dari awal waktu kami sudah berantakan, jadi diputuskan kami akan bermalam di titik belok satu.
Kami pun mulai membagi-bagi tugas. Rangga dan Bashtun membersihkan dan memasang \ bivak menggunakan flysheet, Dina membuat perapian dan Tika memasak. Saat itu Kang Danang datang untuk membantu kami mendirikan bivak dan membuat perapian.
“Bagus mah pake lilin dari pada parafin. Sayang, parafinnya bisa buat masak”, sarannya pada kami saat membuat perapian. Kami pun diperintahkan untuk mencari kayu-kayuan besar untuk di bakar. Setelah bivak jadi, Rangga membantu Tika untuk memasak dan Bashtun membantu Dina memelihara api. Makananpun sudah matang. Perut sudah memberikan alarmnya semenjak tadi sore. Kami pun memasak makanan yang dibuat oleh Tika dan Rangga yaitu cream soup dan rendang. Rasanya sangat enak. Kerenlaah buat Chef Rangga ama Bundo Tika. Setelah beres makan, kami berkumpul di base camp panitia untuk mengevaluasi kegiatan kami hari ini.
Base camp panitia benar-benar terlihat nyaman. Apalagi perapiannya. Batang pohon yang tumbang dibakar menghasilkan api yang sangat besar. Hangat sekali malam itu di basecamp panitia. Oke, kami pun mulai melakukan evaluasi. Pertama, kami mengevaluasi diri kami sendiri. Packing yang seharusnya dilakukan Sabtu, pukul 16.00-18.00 malah ngaret hingga Minggu pukul 02.00. Keberangkatan kami pun terlambat satu jam. Seharusnya menurut ROP, kami harus berangkat pukul 06.15 tapi kami berangkat pukul 07.15 dikarenakan angkot yang kami sewa datang terlambat. Sebenarnya angkot itu datang pukul 06.00, tapi dia salah berhenti sehingga membuat kami menunggu. “Sekali aja waktu kalian berantakan, kesananya bakal kayak domino. Kita di sini harus belajar buat menyesuaikan waktu. Masalahnya kita sekarang sedang bermain di alam, beda dengan kalian main di kota. Saya juga gak akan masalahin tentang waktu kalau di kota mah, mungkin”, kata Kang Ilham saat malam evaluasi tersebut. Navigasi untuk mencari titik awal dan titik belok satu yang seharusnya kami lakukan pukul 08.00-12.00 ngaret menjadi pukul 09.30-12.00. Hal itu membuat perubahan rencana tempat bermalam kami yang seharusnya berada di titik bivak, namun menjadi di titik belok pertama. Selain dari kami, hambatan yang terjadi di luar pun menhampiri perjalalan kami. Seperti, adanya pasar mingguan yang membuat waktu perjalanan kami habis tersita karena ramainya dagangan di pinggir jalan dan kendaraan bermotor yang lalu lalang. Ada beberapa perbaikan yang harus kami lakukan, diantaranya perkiraan-perkiraan mengenai waktu harus dipikirkan terlebih dahulu; mengenali medan lebih terperinci lagi; sadar diri dan sadar lingkungan; peroleh data informasi yang kuat; untuk mengurangi capek, harus olahraga teratur; peralatan yang dibawa harus efektif dan efisien. Itulah evaluasi yang kami lakukan malam itu. Beberapa nasihat pun di petuahkan oleh Kang Ilham. “Usahakan makan sayur, kalo bisa, jangan mie instan. Jangan makan yang instan-instan. Jangan sering makan makanan kucing. Sarden maksudnya. Sayur tuh bagus buat nambah energi. Lain kali bawa sayuran ya”, perintahnya. Angin malam yang menggoyangkan pohon pinus mengeluarkan suara gemuruh yang indah, membuat kami mengantuk. Karena kondisi kami yang sudah lelah, kami pun di persilakan untuk kembali ke bivak masing-masing dan mulai melakukan bobo-bobo cantik. Segala peralatan tidur telah kami gunakan. Dina menggunakan dua celana, dua pasang kaos kaki, satu jaket dan satu sarung tangan. Tika menggunakan satu celana, satu pasang kaos kaki, satu sarung tangan dan satu jaket. Basthun menggunakan satu sarung tangan, satu jaket, sepasang kaos kaki dan satu celana. Rangga menggunakan satu jaket, satu celana dan sepasang kaos kaki. Basthun tidur tepat di depan pintu bivak, aku dan Tika berada di dalam bivak sebelah kanan, dan Rangga berada di sebelah kiri. “Jangan ngorok ya tidurnya”, kata Basthun. “Iya..iya..”, jawab kami. Kami pun mulai memejamkan mata dan berusaha menggali mimpi kami masing-masing. Angin lembah benar-benar dingin malam itu. Semua yang ada di dalam bivak terbangun tidur, terbangun lagi dan tidur lagi, seperti itu terus, kecuali Basthun. Udah kayak mayat aja. Tidur gak bergerak sama sekali. Malah ada nada yang ia buat saat tidur (baca:ngorok).Pagi menjelang. Suara Rangga pun menjadi alarm kami. Ia membangunkan kami satu per satu. Jam menunjukkan pukul 04.00. “Bangun.. Stun, Bangun Stun. Dina, Tika, bangun. Stun, udah pagi”, suara Rangga menjadi alarm kami pagi itu. “Jam berapa emang sekarang?”, tanya Basthun dengan suara parau orang baru bangun. “Jam empat”, jawab Rangga. “Tidur lagi aja lah. Kan bangunnya mau jam lima”, pinta Basthun. “Ya udah, tapi jangan kesiangan ya. Entar gue bangunin lagi”, kata Rangga. Akhirnya kami pun tidur kembali. Alarm pun berbunyi tepat pukul 05.00. Rangga pun membangunkan kami kembali. Saat kami bangun, keanehan mulai kami rasakan. “Bivaknya roboh !!”, saut Dina. Semua yang ada di dalam bivak saat itu pun bangun. Bivak yang tadinya tinggi sekarang telah menjadi selimut kami. He he he. Pagi itu Jarot menyapa Rangga, “Ta, gimana tidur lo? Enak?”. “Dingin coyy, gue ampe menggigil. Pokoknya kalau udah denger suara pinus gue udah siap-siap buat kedinginan. Celana PDL gak mempan coyy, dingin banget. Makanya gue double pake jeans. Eh! Pake jeans malah dinginnya lebih lama. Gue pilek deh nih”, jawab Rangga. Tawa kami pun mengisi pagi yang masih dingin saat itu. “Hahahha..Semua orang juga gitu, Ta. Lo gimana crit?”, tanya Jarot kepada Ucrit. “Gue kapok, Rot, tidur pake jeans. Gila! Dingin banget !”, jawab Ucrit. Satu hal yang kami pelajari lagi. Jangan pernah tidup pake celana jeans karena jeans itu menyimpan dingin, berasa di kulkas tidur pake celana jeans mah. Kami pun mulai melipat flysheet dan mulai memasak. Teh Tyas datang menghampiri kami. Menanyakan menu makanan kami pagi ini apa.

Pagi ini, kami akan makan sarden dan rendang. Ia pun mengingatkan kami bahwa kegiatan camp pagi berakhir pukul 08.00. Kami pun bersiap-siap. Makanan telah matang, kami makan dengan lahapnya. Enak banget deeeh sarapan pagi ini (kayaknya apa aja bakal jadi enak kalau di hutan mah). Setelah makan dan beres-beres buat packing. Peluit pun terdengar. Kami bergeas untuk berkumpul di tempat yang di tentukan. Ternyata masih ada satu kelompok dan satu orang yang datang terlambat sehingga kami memulai breafing pukul 08.10. Setelah itu kami dipersilakan untuk membenahi dan membersihkan daerah bivak kami. Selesai deh. Kami pun menuju tempat panitia berada. Kami ditugaskan untuk mencari titik koordinat tempat kami berada, dan berapa sudutnya. Semua itu dilakukan oleh para cowo, sedangkan cewenya bisa dibilang terima jadi aja. Itu salah satu evaluasi kami. Lain kali cewenya juga harus belajar mendapatkan titik koordinat, tidak hanya menerima langsung jadi tanpa tahu cara-cara mendapatkannya. Hari mulai siang dan mentari mulai menghangatkan tubuh. Kami mulai berjalan menuju titik yang telah ditentukan dan dengan sudut yang telah ditemukan.Perjalanan kami sangat pajang hari itu. Turun ke lembahan, kemudian naik lagi ke punggungan, turun lagi sekian kontur, kemudian naik lagi.
Kami menyebrangi dua sungai kecil. Melewati perdu-perdu dan hutan yang lebat. Disisi kanan kami terdapat jurang. Maka, langkah pun harus sangat diperhatikan di sini. Di sekitar kami juga terdapat tanaman yang warnanya sangat menarik. Kata Kang Vila, kalau warnanya menarik, biasanya itu beracun. Kami pun tiba di sebuah lembahan dan beristirahat di sana pukul 12.00. Kami saling menebak-nebak, apakah kami akan menambah hari untuk menginap di Kareumbi atau tidak. Ada yang berpendapat iya, ada juga yang berpendapat tidak. Hingga Kang Alfan berkata, “Ayolah, pasang..pasang.. Mau berapa-berap ini taruhannya?”. “Jangan duitlah. Gak berharga di sini mah. Sok, gue pasang air. Lo pasang apa Din? Makanan aja deh ya. Hehehe”, canda Ucrit saat itu meledakkan tawa kami. Memang benar, dalam kondisi di hutan, uang bukanlah segalanya. Logistiklah yang segalanya. Setelah beristirahat dan makan makanan kecil, kami pun melanjutkan perjalanan. Melewati hutan bambu yang batangnya telah bayak yang tumbang dengan medan yang sangat terjal, baik turunan maupun tanjakan. Beberapa orang dari kami memegang batang bambu untuk menahan kami agar tidak jatuh. Ternyata rambut-rambut halus dari batang bambu itu menancap di kulit kami. “Bersihin di rambut. Usap-usap sambil di tekan”, kata kang Ilham. “Itu sebagai oleh-oleh aja ya, sengaja saya gak ngasih tau kalian. He he”, tambahnya. Kami berjalan cukup jauh, bahkan saat itu kami harus kembali lagi ke sebuah sungai kecil yang tadi kami lewati, karena kata kang Ilham, kami salah jalan. Selama di perjalanan, kami melihat banyak sekali pohon yang ditebang, seperti penebangan liar. “Dikit banget ya pohon pinusnya. Kata gue ini tuh udah ditebang”, kata Rangga. Memang, bila kita lihat, banyak sekali bekas-bekas potongan kayu dan batang yang masih utuh disekitar kami. Menurut data yang kami peroleh, nama Kareumbi berasal dari gunung Kareumbi di sebelah barat kawasan. Kareumbi juga nampaknya diambil dari nama sebuah pohon, yaitu pohon Kareumbi (Homalanthus populneus) yang semestinya dahulu banyak terdapat di gunung tersebut. Mungkin sekarang sudah mulai menipis karena ditebangi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Padahal di hutan ini sangat banyak tanamannya seperti tepus (Zingiberaceae), Congok (Palmae), Cangkuang (Pandanaceae) dan lain-lain. Dari jenis liana dan epiphyt yang terdapat di kawasan ini adalah Seuseureuhan (Piper aduncum), Angbulu (Cironmera anbalqualis), Anggrek Merpati (Phalaenopsis sp), Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), Kadaka (Drynaria sp), dan lain-lain. Hutan tanaman ± 40 % didomonir oleh jenis pinus (Pinus merkusii), Bambu (Bambusa sp), dan Kuren (Acasia decurens). Namun, kami hanya melihat sedikit dari tanaman-tanaman yang disebutkan tadi.
Perjalanan sangat panjang. Peta, kompas dan protaktor pun sudah tidak kami gunakan. Yang penting sekarang tiba di tempat yang dituju oleh Kang Ilham. Beberapa meter kami berjalan, rasanya kami menyadari tempat yang kami lewati. Ternyata ini adalah jalan pertama saat kami masuk Kareumbi. Senyum pun mulai terlihat di wajah rekan-rekan seperjuangan. “Aaahh,, kosaaann”, kata Rangga dengan wajah sumringah. Memang dari tadi malam dia selalu menyebut-nyebut kostan. “Gue kangen kosan”, katanya. Akhirnya kami pun tiba di tempat awal kami saat Minggu pagi. “Berarti sekarang minum bisa dihabisin dong?. Serbuuu!!!”, kata Ucrit. Kami pun membuka semua minuman yang tersisa. Ada empat botol 150ml yang kami habiskan saat itu. Benar-benar perjalanan yang melelahkan tapi seru. “Tadi selama di perjalanan, apa ada yang masih menghitung sudut dan arah? Ada yang tau tadi kita melewati medan apa saja dan berapa konturnya?”, tanya Kang Ilham. “Hehe, nggak Kang”, jawab kami. “Udah pada capek ya? Jadi main ikut saya aja”, tanya kang Ilham lagi. “Iya kang, tadi mah fokus ama jalan aja, yang penting sampai. Hehe. Tapi tadi cuman megang kompas aja. Liat arah jalan aja”, jawab Kang Alfan. “Oke, saya cukup bangga dengan kalian. Analisis kalian bagus. Sangat mengalami peningkatan. Tepuk tangan dulu.”
“Kapan-kapan mah kalian nyoba pergi sendiri. Cari jalan, sambil latihan navigasi. Kalau gak dilatih, saya jamin, bakal gampang lupa. Entar bikin perjalan bareng. Ya buat seneng-senengan aja sekalian belajar nabigasi. Oke?. Buat ibu-ibunya, jangan hanya berdiam diri saja ya. Kalian juga harus berpendapat. Belajar lah kalau memang belum bisa. Tanyakan saja, jangan malu-malu ya”, nasihat Kang Ilham pada kami. “Saya mau menambahkan. Kalian udah bagus. Disadari atau tidak, kalian sudah banyak perkembangan. Saya bangga sama kalian. Kalian juga udah mulai dekat satu sama lain. Tetep semangat. Jangan lupa tugasnya”, tambah kang Vila. Angkot yang kami sewa pun sudah datang. Kami berpamitan kepada akang dan teteh panitia untuk duluan pulang ke Jatinangor. Rasa lelah berjalan sepanjang delapan kilometer semuanya telah terbayar oleh ilmu-ilmu yang disampaikan oleh semua panitia. Rasa kekeluargaan pun sudah mulai tumbuh diantara kami. Semoga di perjalanan berikutnya lebih menyenangkan lagi. Oh iya, sekadar memberi info. Naik angkot ke Jatinangor bayar Rp15000 lagi. He he.
Total untuk perjalanan sekitar Rp35000.
KEEP EXPLORE !!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar