KELAHIRAN SANG ANGIN PERUBAHAN, GUNTUR WARANGIN
Dina Aqmarina Yanuary
NAK.K15.2810.GW.Amud
Bersedia.. Siap..
“Kelompok satu: Basthun, Ryan, Dina, Dika. Kelompok dua: Jarot, Hanif, Rangga, Nisa. Kelompok tiga: Alfan, Deando (Ucrit), Tika,” setelah menyebutkan nama masing-masing anggota kelompok, kang Fiyyan pun menyuruh kami untuk berkumpul membahas tentang ROP, Skenario dokumentasi, RAB, dan data informasi mengenai gunung-gunung yang akan kami singgahi. Ada tiga gunung yang telah ditentukan oleh panitia sebagai tempat diklat kami, diantaranya, Gunung Batu, Gunung Palasari dan Gunung Manglayang.
Sebelum menginjakkan kaki kami di sana, kami harus mencari beberapa informasi mengenai gunung-gunung tersebut seperti deskripsi tempatnya, aparatur daerah di sana, fasilitas kesehatannya, bagaimana infrastruktur perekonomiannya, objek menarik di sana, kesenian dan aktivitas warga di sekitar gunung tersebut. Setelah menemukan semua informasinya dan dipresentasikan di depan Kang Edo, Kang Fiyyan dan Kang Vila, kami pun membereskan PAL dan BAL di dalam carrier kami, membagikannya sesuai dengan menu harian yang telah kami buat, kemudian kami packing ulang. Sebentar lagi esok akan tiba, yang tadinya ada dalam hitungan bulan, kemudian minggu, berganti menjadi hari, tiba-tiba menjadi jam, lalu menit, hingga beberapa detik lagi diklat ini akan kami jalani. Entahlah apa yang akan terjadi, kita lihat saja besok..
Sebelum menginjakkan kaki kami di sana, kami harus mencari beberapa informasi mengenai gunung-gunung tersebut seperti deskripsi tempatnya, aparatur daerah di sana, fasilitas kesehatannya, bagaimana infrastruktur perekonomiannya, objek menarik di sana, kesenian dan aktivitas warga di sekitar gunung tersebut. Setelah menemukan semua informasinya dan dipresentasikan di depan Kang Edo, Kang Fiyyan dan Kang Vila, kami pun membereskan PAL dan BAL di dalam carrier kami, membagikannya sesuai dengan menu harian yang telah kami buat, kemudian kami packing ulang. Sebentar lagi esok akan tiba, yang tadinya ada dalam hitungan bulan, kemudian minggu, berganti menjadi hari, tiba-tiba menjadi jam, lalu menit, hingga beberapa detik lagi diklat ini akan kami jalani. Entahlah apa yang akan terjadi, kita lihat saja besok..
Mulai !!.. Tapi..
Masih menggunakan baju kemarin, dengan topi rimba sesuai pilihan kami. Di awali dengan nomor satu, Tika. Dua, Ryan. Tiga, Ucrit. Empat, saya. Lima, Jarot. Enam, Nisa. Tujuh, Kang Alfan. Delapan, Dika. Sembilan, Rangga. Sepuluh, Hanif. Dan terakhir, sebelas, Basthun. Tak lupa dengan syal orange terang yang melilit bangga di leher kami, kami pun bersiap untuk memulai pertempuran bersama waktu dan situasi. Di Plasa Fikom terpampang besar baligho yang didalamnya tertera nama kami bersebelas. Di awali dengan upacara formal yang dihadiri oleh PD 3, Pak Aceng, sebagai Pembina upacara, rangkaian Outing To atau lebih dikenal dengan nama diklatsar ini pun dibuka. Panji Kappa (bendera) diamanahkan kepada kami untuk kami jaga. Bila panji ini menyentuh tanah atau jatuh, konsekuensi berat siap menanti kami, Baru saja kami akan berangkat, masalah sudah menghampiri kami. Angkot yang telah kami sewa ternyata datang sangat lama, dan harga hasil negosiasi kami pun ia langgar. Maka dari itu, kami memutuskan untuk menaiki angkot yang lain yang biayanya lebih murah, seharga Rp160.000. Tiba-tiba, angkot yang sebelumnya kami sewa, datang dan menghalangi angkot yang baru kami sewa. Percikan amarah pun mulai terasa memanasi jiwa kami, seperti raga kami yang terpanasi oleh sengatan mentari siang itu. Saat itu pula Kang Vila dan Kang Fiyya turun tangan langsung untuk meredam amarah sang supir angkot. Meski sempat diancam, akhirnya semuanya selesai dengan damai. Entah sihir retorika macam apa yang mereka berdua lontarkan pada sang supir sehingga polemik kecil ini bisa teratasi meski memakan waktu yang cukup lama. Efek domino pun menyerang ROP yang telah kami sepakati. Perjalanan yang seharusnya dimulai pukul 13.30-15.30, malah dimulai pukul 14.30-15.55. Kami melewati tol untuk menuju ke Gunung Batu di Lembang. Kemacatan di daerah Bandung semakin memperlambat pergerakan kami. Kami pun hanya berharap agar tidak mendapatkan hukuman yang berat dari panitia atas keterlambatan kami. Akhirnya kami pun tiba di tempat tujuan kami. Sebelumnya, kami melaksanakan salat terlebih dahulu, setelah itu, kami menuju ke tempat yang di tentukan oleh panitia. “Lari !!! Cepat siswa !!!”. Grasak-grusuk kami pun berlari sekencang mungkin dengan membawa carrier yang entah berapa kilo beratnya menuju ke sumber suara di sebuah lapangan luas . Di sana telah berdiri empat orang panitia. Mereka adalah tim jalan. Dengan dajalnya (komandan jalan) bernama Kang Edo. “Semua !! Ambil posisi !!”, teriaknya. Hah?! Demi apa lah ini. Push up carrier. Hal baru yang tidak ingin terulang lagi. Dengan beban yang sungguh ‘sesuatu’, kami disuruh untuk push up. Ia pun mulai menghitung, “Satu !!”. Kami pun mulai push up carrier. Kami? Saat itu aku terlalu lemah untuk mengangkat beban carrier ku sendiri –angkat dosa sendiri aja udah cape-. “Satu !!”. Kami pun push up kembali –lagi-lagi aku tidak mampu-. “Satu !!”. Alamaaak, demi apa dari tadi hitungan bermuara pada angka satu tanpa beranjak sedikit pun ke angka dua?! –setidaknya satu setengah saja-. Ternyata ia tidak mau melanjutkan hitungannya sebelum semua siswa naik secara kompak dalam satu hitungan. Namun, sekali lagi, tanganku belum -mampu untuk mengangkat berat badan ditambah berat carrier –dan berat dosa-. Akhirnya kami di perintahkan untuk meletakkan carrier kami, dan kami pun disuruh push up kembali. “Satu !!”, semua pun melakukan push up. “Setengah !!”. Glek !. Push Up setengah adalah posisi yang sangat bikin pegel. “Enak push up setengah?. Tidak kan?. Makanya, jangan pernah mengerjakan suatu hal itu secara setengah-setengah. Kerjakan atau tidak smaa sekali”, ucap kang Edo pada kami. Setelah beberapa menit kami menahan posisi push up setengah, kami pun diperintahkan berdiri. Lalu kami di ajak berjalan menaiki Gunung Batu untuk segera melakukan kegiatan camp craft karena hari mulai menjelang magrib. Sebenarnya medan yang kami lalui tidak begitu sulit, namun karena beban yang kami bawa, membuat pergelakan kami lebih lambat dari Kang Dhanang, danbes (komandan base camp).
Akhirnya, kami tiba di titik basecamp pertama. Oke, kami pun mulai mengerjakan kegiatan camp craft. Di diklat ini, kami berpacu dengan waktu karena waktu yang disediakan oleh danbes sangatlah minim. Itulah tuntutan bagi kami, bekerja di bawah tekanan namun hasilnya tetap maksimal. Karena waktu yang diberikan sangat minim dan pergerakan kami yang belum cepat, maka kami pun diberikan sanksi berupa push up. Setelah menyelesaikan memasak, kami pun makan bersama kemudian menyiapkan mental untuk hari esok. Apa yang akan terjadi? Entahlah.. hanya satu yang aku ingat dari kata kang Vila sebelum kami tidur, “Hari ini mah, ya dipikirin hari ini. Besok mah, ya besok aja. Tenang, nanti juga gak kerasa da”.
Mencengkram Tebing
Subuh, 05.00. Kami terbangunkan oleh gebrakan dari tim basecamp. Seperti kemarin, sang danbes pun memberikan waktu 10 detik kepada kami untuk bersiap-siap berbaris dan sudah dalam keadaan menggunakan pakaian lapangan, bukan pakaian tidur lagi. Setiap 10 hitungan namun kami tetap belum berbaris, makan satu seri push up pun menjadi hadiah bagi kami. “Saya beri waktu satu jam untuk kalian melakukan kegiatan camp craft”, ucap danbes. Kami pun mulai gurung gusuh melakukan kegiatan camp craft. Setelah melakukan kegiatan camp craft, kami pun mem-packing barang-barang kami ke dalam carrier. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke tebing sebelah. Sebenarnya sih dekat, hanya saja, rute yang digunakan ditambah beban carrier yang kami bawa sanagt memperlambat gerakan kami dalam berpacu dengan waktu. Akhirnya kami gagal kembali untuk melakukan kegiatan sesuai dengan ROP yang telah kami buat. Untungnya pelatih kami saat itu, Kang Stun, memaklumi keterlambatan kami.
Hari pertama kegiatan panjat tebing dimulai dengan test simpul menyimpul. Saat itu aku dan nisa ditest oleh kang Angga. Beberapa simpul lancar kami buat, dan beberapa simpul lagi agak lupa cara membuatnya. Setelah test selesai, kami pun disuruh untuk berbaris. “Dina, Jarot, Tika, dan Hanif, maju ke depan. Ini adalah teman-teman kalian yang memiliki nilai tertinggi untuk test simpul. Sekarang, kalian berempat, ambil posisi push up”, ucap kang Angga. Pasti kalian bingung, kenapa kami yang disuruh untuk push up, padahal nilai kami lebih baik dibandingkan yang lain. “Di sini, tidak ada superman ! Yang ada hanya super tim !”, sepertinya perkataan kang Angga barusan sangat menjawab pertanyaan dipikiran kita. “Saya tugaskan kepada kalian untuk mengajari teman-teman kalian yang lain. Ingat, super tim bukan superman !”, perintahnya pada kami.
Olrait , sekarang waktunya kami untuk memanjat tebing Gunung Batu. Jujur, ini kali pertamanya aku mencoba untuk memanjat tebing. Karena sebelumnya aku tidak mengukiti pelatihan dan simulasinya. Ya, berasa orang sangat dodol karena tidak tau apa yang harus dilakukan. Tapi, saudara-saudara KAPPA membantuku untuk menjelaskan alat-alatnya dan fungsi alat tersebut. Pengalaman pertama memanjat tebing adalah keren. Yaa, meskipun tidak sampai top –malah belum sampai ke titik aman dua- rasanya sangat hebat. Panjat tebing seperti memiliki zat adiktif sendiri, karena ketika kita gagal untuk mencapai pegangan di tebing, kemudian kita jatuh, rasanya ingin mencoba lagi terus dan terus hingga bisa mencengkram tebing tersebut. Saat itu yang bisa menaklukan tebing sampai ke top ada dua orang, Ucrit dan Kang Alfan. Seruu banget deh belajar manjat. Materi pemanjatan pun akan kembali dilakukan esok hari.
* * *
Keesokan harinya, kami pun melanjutkan kegiatan panjat tebing. Sebelum panjat tebing, kami di test untuk menyebutkan alat-alat panjat tebing dan mempraktikkan simpul-simpul. Malam hari sebelumnya, kami belajar bersama bagaimana cara membuat simpul-simpul dan menghafal nama-nama alat yang digunakan dalam panjat tebing kemarin. Alhamdulillah, saudara-saudara kami yang tadinya belum bisa simpul, jadi bisa. Yang belum mengetahui alat-alat panjat dan fungsinya, jadi tau. Setelah test, kami pun melakukan kegiatan panjat tebing. Kali ini kami dibagi menjadi dua tim. Tim panjat tebing, dan tim ascending. Sekadar info, memanjat tebing ada dengan dua cara. Pertama, langsung memanjat dengan menggunakan tali static atau dynamic, kemudian memasang pengaman di setiap hanger yang ada di tebing. Kedua, memanjat menggunakan alat yang bernama ascender, seperti capit yang menggigit tali. Caranya dengan mendorong badan ke atas sambil menggerakkan ascender ke atas. Keduanya cukup sulit dilakukan, namun menurut Ryan, lebih gampang manggunakan ascender dibandingkan memanjat secara manual karena tinggal menekan tali pada kaki, kemudian mendorong ascender ke atas, maka kita sudah bisa naik dengan mudah.
“Gue ngerasa keren gitu pake ascender sambil motret. Hahaha”, celetuk Ucrit saat ia mencoba menggunakan ascender. Menurut kang Stun, memanjat menggunakan ascender biasanya digunakan bila si pemanjat ingin memotret pemanjat manual dari angle bawah, normal ataupun atas. Seperti yang dilakukan oleh Ucrit ini adalah memotret Jarot yang sedang memanjat tebing dari angle atas.
Memanjat menggunakan ascender tidak memerlukan belayer, karena bila si pemanjat akan turun, ia menggunakan alat bernama figure of eight, seperti namanya, alat ini berbentuk seperti angka delapan. Fungsinya bisa untuk mem-belay, bisa juga untuk rapling.
Oke, sekarang kita beralih ke memanjat tanpa menggunakan ascender. Memanjat secara manual dibutuhkan seseorang yang menjadi belayer, atau pengatur tali si pemanjat. Bila si pemanjat akan memulai langkahnya untuk memanjat, biasanya tali yang di pakai si pemanjat (leader), akan di kendurkan oleh belayer. Saat leader sedang memanjat, biasanya tali akan sedikit dikencangkan oleh belayer. Bila leader memberi aba-aba bahwa dia akan jatuh, maka tali akan dikencangkan oleh belayer. Di sini, konsentrasi menjadi seorang belayer harus sangat diperhatikan, masalahnya bila belayer lengah sedikit saja, maka nyawa leader lah yang akan menjadi taruhannya.
Tak terasa, senja sore hari menyapa kami, setelah melakukan aktivitas panjat tebing, kami kembali ke titik basecamp satu. Di sana kami kembali melakukan aktivitas yang telah dibagi-bagi, masih dengan waktu yang alakadarnya, sehingga hasil kami pun sangat alakadarnya. He he. Terjadi insiden kecil saat kegiatan camp craft, salah satu anggota kelompokku, Dika, mengalami perdarahan pada jarinya saat memotong kayu menggunakan tramontina, mungkin karena saat itu dalam keadaan gelap dan dia tidak menggunakan senter, sehingga tangannya teriris tramontina. Setelah melakukan kegiatan camp craft, kami pun berkumpul mengelilingi perapian yang telah kami buat. Tidak terasa, sudah tiga malam kami habiskan waktu bersama di Gunung Batu ini. Tak terhitung pula sudah berapa seri kami mendapatkan kado push up dari danbes. Malam semakin dingin, namun indahnya tak pernah berkurang. Aku masih ingat kata-kata teh Tyas padaku. “Nikmati malamnya. Ini malam terakhir kalian di hotel seribu bintang”. Lampu-lampu dari rumah warga sangat indah bila dilihat di ketinggian sini. “Bentar lagi kita bakal tinggalin tempat ini ya. Kangen gue”, kata Ucrit. Malam semakin, larut. Sekarang sudah menunjukkan pukul 23.30, danbes menghampiri kami dan menyuruh kami untuk segera tidur.
Misi Rahasia
Pukul 08.00, kami telah menyelesaikan segala aktivitas kami, dan kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Gunung Kasur. Kami menaiki angkot dari Lembang menuju Desa Gunung Kasur dengan biaya…. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Sebelum melakukan perjalanan, kami melakukan resection untuk mencari titik koordinat yang telah ditentukan oleh panitia. Setelah itu, kami mencari jalan termudah dan teraman untuk mencapai Desa Gunung Kasur. Akhirnya kami pun melihat dari kejauhan, sebuah desa, tujuan kami selanjutnya. Beberapa menit kami berjalan, akhirnya kami tiba di Desa Gunung Kasur pukul 12.00. Kami pun membuat makan siang denagn menu yang sungguh luar biasa : JENGKOL. Waktu memasak yang diberikan oleh danbes sekitar 30menit, padahal untuk memasak jengkol butuh waktu yang cukup lama. Alhasil, masakan semur jengkol kami pun gagal. Ha ha ha. Kami makan dalam satu hamparan trash bag, semua menu di campur menjadi satu bersama nasi –termasuk semur jengkol gagal-. Ya, rasanya sungguh luar biasa. Masih keras, dan aromanya sungguh menyengat. Setelah selesai makan, kami pun diberikan intruksi untuk mewawancarai seorang warga di sana. Selain itu, kami pun ditugaskan sebuah misi. “Mala mini, kalian harus bisa tinggal di salah satu rumah warga”, perintah kang Fiyyan. Waw.. Misi ini sangat menantang dibandingkan mewawancarai. “Semoga aja kalian bisa dapet tempat enak. Jadi malam ini kalian tidur dan makan enak”, tambahnya. Kami pun diberi waktu hingga pukul 16.30 untuk berusaha mendapatkan tempat bermalam.
Menemukan Emak Baru
Aku mengunjungi sebuah rumah. Berdindingkan kayu, beratapkan genting coklat. Kebulan asap keluar dari celah-celah ventilasi udaranya. Mungkin ada yang sedang memasak di dapur. Perlahan aku pun mengetuk pintu yang ada di bagian samping rumahnya. Sesosok ibu setengah baya membuka pintu dan tersenyum padaku dengan mata berlinang air. Aku takut kedatanganku tidak tepat. Aku pun memperkenalkan diriku padanya menggunakan bahasa Sunda. Sang Ibu pun menyuruh aku untuk masuk, karena saat itu hujan mulai turun. Ternyata, aku masuk melalui pintu dapur. Kulihat beliau tengah memasak sesuatu. Dan kulihat ternyata bukan kompor yang ia gunakan untuk memasak, tapi tungku. Pantas saja matanya memerah dan berair seperti itu. Aku pun berbincang-bincang dengannya. Banyak hal yang aku tanyakan tentang dirinya. Ia bernama Bu Esih. Umurnya 48 tahun. Ia memiliki tiga orang anak yang sudah dewasa dan berumah tangga, namun ada satu anaknya yang belum berumah tangga, yaitu Kang Agung, anak pertamanya. Bu Esih bekerja sebagai buruh di perkebunan kina. Ia bekerja selama puluhan tahun. Gajinya perbulan sebesar Rp450.000. Tapi terkaadang gajinya tidak sebesar itu. Bila ia tidak masuk sehari, maka gajinya
>Bu Esih sedang memasak menggunakan tungku< akan dikurangi. Anaknya yang pertama bekerja sebagai tukang ojek di Lembang. “Muhun neng, saleresna mah teu cekap kanggo listrik sareng sangu mah. Tapi da kumaha deui, ayana ge ngan sakitu”, kata ibu padaku. Saat aku bertanya, mengapa ibu tidak menggunakan kompor dan penanak nasi untuk memasak, ibu menjawab dalam bahasa Sunda yang artinya, “Sebenarnya ada yang jualan gas-gas gitu. Tapi ibu suka takut pake kompor gas mah. Takut meledak. Lebih aman pake tungku. Rasanya juga lebih enak”. Ibu Esih hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya, karena suami ibu sudah meninggal beberapa tahun lalu. Jadi ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berbincang-bincang dan membantunya memasak, aku pun mulai menjalankan misi yang diberikan oleh Kang Fiyyan. Ternyata tidak seperti dugaan ku, ibu dengan tangan terbukanya mau menerima keberadaan ku, “Sok atuh neng. Mangga wae ibu mah. Teu kedah isin-isin”, katanya penuh senyum padaku.
>Bu Esih sedang memasak menggunakan tungku< akan dikurangi. Anaknya yang pertama bekerja sebagai tukang ojek di Lembang. “Muhun neng, saleresna mah teu cekap kanggo listrik sareng sangu mah. Tapi da kumaha deui, ayana ge ngan sakitu”, kata ibu padaku. Saat aku bertanya, mengapa ibu tidak menggunakan kompor dan penanak nasi untuk memasak, ibu menjawab dalam bahasa Sunda yang artinya, “Sebenarnya ada yang jualan gas-gas gitu. Tapi ibu suka takut pake kompor gas mah. Takut meledak. Lebih aman pake tungku. Rasanya juga lebih enak”. Ibu Esih hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya, karena suami ibu sudah meninggal beberapa tahun lalu. Jadi ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berbincang-bincang dan membantunya memasak, aku pun mulai menjalankan misi yang diberikan oleh Kang Fiyyan. Ternyata tidak seperti dugaan ku, ibu dengan tangan terbukanya mau menerima keberadaan ku, “Sok atuh neng. Mangga wae ibu mah. Teu kedah isin-isin”, katanya penuh senyum padaku.
Aku pun kembali ke saung tempat kami dan panitia berkumpul. Alhamdulillah kami semua mendapatkan tempat untuk bermalam. Meskipun Rangga sempat mengalami kesulitan. Kesulitan apa yang Rangga hadapi? Cekidot, kita simak ceritanya. “Gini, tadi saya tuh udah datengin satu rumah. Saya ketok pintunya. Yang buka anak kecil. Terus saya tanya ama anak itu, Dek, ada ibunya?. Anak itu diam, terus teriak, Eeeemaaaaaakkkkkkk !!!!!!. Dia ketakutan gitu. Parah banget, kaget gitu dia liat saya”. Tawa kami pun membludak. Mungkin anak itu ketakutan melihat Rangga yang memiliki badan besar dan tampang yang agak menyeramkan. Apalagi Rangga menanyakan ibu si anak itu. Mungkin dalam benak anak itu, Rangga akan meng-apa-apain ibunya. He he. Kami pun berkemas dan menuju rumah tempat kami bermalam masing-masing. Aku pun memulai aktivitasku di rumah Bu Esih. Membantunya memasak, kemudian kami makan bersama. Makanan ibu sangat sederhana tapi enaknya melebihi kata sederhana. Menunya hanya midog (Mie campur endog atau telur), sambel terasi, jengkol goreng dan tempe goreng. Jengkol? Tenang, jengkol ibu sangat berbeda rasanya –beda jauh- dengan jengkol buatan kelompokku siang tadi. Rasanya enak banget. Tidak berasa pait sedikitpun. Teksturnya juga lembek, tidak sekeras masakan kami. Apalagi dicocol di sambel buatan ibu. Beuh !! Mancab pisan !!. Malam hari di sana sangat sepi. Hanya terdengar suara TV samar-samar dari rumah sebelah. Aku pun berbincang-bincang dengan ibu, sembari memijit badannya yang kecil. “Aduh neng, meni raos”, responnya saat itu. Ia pun menceritakan pekerjaannya sehari-hari yang memangkas rumput untuk memberi makan sapi-sapi. Ia juga menceritakan kebiasaan warga sini dalam memeringati maulid nabi. Biasanya warga sini sering makan bersama di satu rumah, dan mengaji bersama. Di dekat desa ini juga terdapat sebuah air terjun bernama Sangkuriang. Ibu kurang mengetahui sejarah nama air terjun itu. Saat aku bertanya mengenai nama desa ini, ibu berkata, “Disitu ka nada gunung, namanya gunung kasur. Kata orang mah, kalo tidur di tanahnya, berasa tidur di kasur, soalnya empuk”. Malam semakin larut, ibu pun menyuruhku untuk tidur. Udara di sana lebih dingin dari pada udara di Jatinangor. Air nya saja melebihi air es. Saat kita mandi, ada asap yang keluar dari airnya –saking dinginnya-.
Piano Rimba
Pagi segera menyambut kami. Aku pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan, rasanya aku tidak mau berpisah dengan ibu. Ibu sangat baik dan ramah. Aku berjanji padanya, suatu hari aku akan mengunjunginya kembali. Aku dan saudara-saudara KAPPA yang lain pun berkumpul. Kami pun mulai mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya. Hari ini, kami belajar untuk bernavigasi darat bersama masternya, Kang Ojel. Beliau memberikan titik titik koordinat kepada kami, dimana titik-titik koordiat itu harus kami cari keberadaannya. Meski hanya tiga titik, namun itu tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi saat itu cuaca sedang gerimis, menyulitkan kami untuk membidik puncak-puncak gunung. Waktu berlalu begitu saja. Gerimis masih menyelimuti kami. Kami pun segera diboyong menuju Gunung Palasari. Di sanalah titik basecamp kedua kami. Di sana kami mulai membuat bivak, memasak dan membuat perapian. Saat itu banyak panitia yang mengawasi kami. Di sana ada senior kami bernama kang Rizky. Ia terus berteriak-teriak meminta kami agar bergerak lebih cepat. Sedikit mengganggu, namun inilah pelatihan yang haurs kami jalani. Bisa bergerak cepat dalam keadaan terdesak. Di sana ia memberikan kami satu persatu belatung untuk dimakan sebagai latihan kami bersurvival di alam bebas. Setelah semua beres, kami di panggil dan berbaris. Katanya sih, kami akan dipertemukan dengan senior-senior atas. Entahlah apa yang akan terjadi.
Malam Piano Rimba, itulah nama acaranya. Disana mereka membuat lelucon dimana kami tidak boleh tertawa sedikitpun –termasuk senyum-. Parah ! Susahnya menahan tawa saat itu. Apalagi guyonan yang dibuat oleh Kang Cincun sangat membuat tidak tahan. Setiap yang tertawa, akan diberiakan keripik super pedas –Karuhun- sebanyak-banyaknya. Malam piano rimba tidak secara total di jalankan hingga akhir, karena kata kang Rizky, kami akan melakukan pejalanan panjang. Perjalanan panjang??.
Palasari-Manglayang itu sesuatu
Benar ternyata apa yang dikatakan kang Rizky tadi malam. Perjalanan panjang. Ya, kami akan berjalan kaki dari Palasari menuju Manglayang selama 4-6 jam. Perjalanan pun dimulai. Untuk membakar semangat kami, kami pun bersama-sama menyanyikan lagu diklatsar. Semangat kami pun mulai terbakar. Hingga waktu menunjukkan pukul 12.00. Sebagai manusia normal, kekuatan kami mulai berkurang, apalagi saat itu kami dalam keadaan survival. Semua makanan dan minuman kami diambil oleh panitia, sehingga kami hanya boleh memakan tanaman dan hewan yang kami temui. Terus melangkah hingga rasanya kaki sudah tak bertapak di tanah. Hingga saat kang Edo berkata, “Lihat di depan kalian. Itu adalah Gunung Manglayang !. Bakar lagi semangat kalian !”. Seketika itu juga semangat kami pun mulai terbakar. Saling tolong menolong. Menguatkan satu sama lain. Membawa kami pada sebuat tempat. Titik basecamp tiga. Yeah !!. Rasanya bangga banget bisa jalan sejauh itu. Sungguh kekuatan yang luar biasa telah Allah berikan pada kami semua. Kami pun melakukan kegiatan campcraft. Setelah itu, kami makan bersama. Menu kami hari ini adalah ular, belalang, pisang rebus, dan pakis. Meskipun sedikit, namun rasanya sangat nikmat. Ahh.. hari ini benar-benar sesuatu. Dua hari lagi.. Ya.. Dua hari..
Guntur
Seperti biasa, kegiatan pagi hari kami adalah membenahi segala peralatan untuk mempersiapkan kegitan kami selanjutnya. Hari ini kami belajar survival dengan kang Dado. Kami disuruh membuat bivak alam, perapian dan berbelanja –mencari makanan-. Kesibukan pun menyelimuti kami masing-masing, sesuai dengan pembagian tugas yang telah ditentukan oleh tiap kelompok. Nisa yang saat itu ditugaskan untuk membuat perapian, menghampiriku. Ia memintaku untuk mengajarinya membuat perapian. Aku sendiri saat itu sedang kesal karena perapianku tak kunjung menyala. Sebenarnya menyalah, tapi mati lagi. Aku pun menyarankannya untuk meminta pertolongan teman sekelompoknya. Entah bagaimana ceritanya, mungkin Nisa juga sudah lelah dan kesal karena terus dimarahi oleh panitia dan tidak ada yang membantunya untuk membuat api, ia pun mengeluarkan kata yang menghentikan semua aktivitas kami. “Teman-teman, saya mau pulang. Saya sudah capek”. Seketika itu pun kami semua berusaha untuk menahannya dan menahannya agar tetap di sini bersama kami. Namun, ternyata ia bersih keras untuk pulang. Kawan, bayangkan, satu hari lagi. Satu hari. 24 jam lagi kawan, ia mau menyerah begitu saja. Tapi karena tekadnya yang bulat, akhirnya kami pun membiarkannya pergi. Kesal, sedih, capek, menyelimuti kami di tengah rerintik hujan kecil. 15 menit berlalu setelah kepegian Nisa, tiba-tiba ada suara yang berkata, “Teman-teman, saya tidak jadi pulang”. Sontak kami semua melihat ke arah Nisa. Tawa kami pun menyambut kedatangan ia. Kata-kata semangat terus mengalir dari kami untuk nya. Kami pun mengajarinya membuat perapian. Hujan semakin deras. Belum ada satu perapianpun yang jadi. Bivak alam yang dibuat Basthun ternyata belum mampu menahan butiran-butiran hujan yang datang secara keroyokan. Hujan cukup betah mengguyuri kami, seolah ia tahu bahwa besok adalah hari terakhir kami. Setelah hujan mulai reda, kami pun kembali melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.
Basthun dengan bivaknya. Ryan mencari makanan. Aku membuat perapian. Dan Dika mencari kayu bakar. Semua kami kerjakan semaksimal mungkin dengan bahan seminimal mungkin. Entah bagaimana korek yang tadinya berjumlah sebelas, sekarang hanya tersisa tiga. Dan itu pun tidak menyala. Mungkin karena suhu yang dingin membuat korek tidak bekerja dengan baik. Malam pun menjemput kami. Hujan pun semakin terasa dingin menusuk kulit. Kembali lagi dengan perapian yang belum menyala. Kang Aris dan Kang Dhanang pun datang mengunjungi camp kami, di lereng Manglayang. Ia mempertanyakan perapian kami. Tak satu pun yang bisa menjawabnya. Kang Aris pun mulai murka terhadap kami. Seketika itu pula langit bergemuruh. Guntur yang sangat keras menjadi back sound yang tepat saat itu. Hujan semakin deras. Dinginnya pun merembes melalui pori-pori kemeja flannel kami. Bentakkan suara kang Aris menambah panjang catatan keterpurukan kami. Akhirnya, ia pun memberikan sebuah korek untuk kami gunakan membuat perapian. Setelah itu, ia pun pergi. Meninggalkan kami dengan bekas tamparan diwajah kami masing-masing.
Api. Benda yang sangat sulit untuk dibuat. Merawat api itu seperti merawat anak. Harus sabar dan tekun agar bisa menjadi besar dan tak pernah padam, hingga ia menjadi perapian. Perapian kami pun selalu gagal. Kepanikan kami pun bertambah ketika Ucrit mulai memucat. Tangannya membeku, giginya bergemeretak, bibirnya memutih. Kami pun menyadarkan Ucrit dan terus menggoyang-goyangkan badannya agar ia sadar. Karena bila ia terus diam, maka hipotermi akan menyerangnya. Bantuan pun cukup lama datangnya, namun akhirnya Ucrit bisa ditolong oleh Kang Dhanang dan Kang Erick. Hujan masih betah mengguyuri kami. Kami pun tidur berselimut hujan. Tinggal satu hari lagi .. Ya.. Satu hari.
Lahirnya Guntur Warangin
Pagi, 04.00 kami dibangunkan secara mendadak oleh kang Aris. Dengan terburu-buru, kami mengganti baju dan berbaris. Keadaan masih gelap. Kami disuruh untuk berjalan mengikutinya. Hanya sinar headlamp yang menerangi jalan kami. Cukup lama kami berjalan dalam kegelapan. Kami kembali di kumpulkan di sebuah lapangan luas. Di sana, para senior melatih kekuatan mental kami dengan berbagai cara. Cukup lama . Hingga akhirnya mentari pun mulai menghangati tubuh dan baju kami. Kami pun membuat lingkaran di sekeliling perapian. Di sana kang Vila menanyakan kabar kami. Ia juga menanyakan nama rimba dan nama angkatan kami. Nama rimba pun telah kami peroleh dari saudara seperjuangan kami. Tika memiliki nama rimba Bundo karena ia berasal dari Padang dan pandai memasak seperti seorang ibu. Ryan memiliki nama rimba Kuba. Kuba adalah kepanjangan dari kentut bau. Setelah malam piano rimba itu, Ryan selalu kentut dan buang-buang air. Ucrit memiliki nama rimba Badut karena sepatu yang ia gunakan lebih besar dari pada ukuran kakinya, dan kaos kainya pun selalu ketinggian. Aku memiliki nama rimba Gotan, yang artinya gombal hutan. Nama itu diberikan padaku karena aku sering menggombali siswa nomor 10, Hanif. Jarot memilki nama rimba el Jarotes. Nama itu diberikan oleh Hanif –entahlah apa maknanya-. Nisa memiliki nama rimba Slank. Karena dalam lagu Slank ada yang berlirik aku ingin pulang, seperti dirinya yang ingin pulang di hari terakhir. Kang Alfan memiliki nama rimba Omari yang berarti Old man rimba karena ia adalah angkatan paling tua dari kami –ia satu-satunya angkatan 2010-. Selanjutnya Dika. Ia memiliki nama rimba Silvertongue karena itu nama facebooknya. Rangga memiliki nama rimba Gedong. Gedong adalah singkatan dari Gede Dongo. Karena muka dan pola tingkah ia terkadang rada dongo. He he. Hanif memiliki nama rimba Srimulat karena ia sering melucu, tapi terkadang apa yang ia katakan sering gaje –gak jelas- dan garing. Yang terakhir Basthun. Ia memiliki nama rimba Tobing atau Topi Tebing. Ceritanya saat itu subuh hari. Karena tergesa-gesa, tanpa sadar, ia menggunakan topinya dalam keadaan terbalik. Yang luar jadi di dalam. Otomatis nomor siswa dia tidak terlihat. Sehingga kang Dhanang menyuruhnya untuk mencari nomor siswa dia di dalam bivak, namun tidak ketemu. Akhirnya ia dihukum push up satu seri saat itu. Tapi setelah dilihat-lihat, ternyata nomor siswanya itu tidak terlepas melainkan terbalik.
“Terus, nama angkatan kalian apa?”, tanya kang Vila. Kami pun mulai merundingkannya secara bersama. Akhirnya, satu nama tercetus untuk angkatan kami. “Guntur Warangin, Kang”, jawab Jarot. “Guntur Warangin?. Apa maknanya?”, tanya kang Vila. “Guntur itu kami dapat waktu kang Aris marah sama kami. Rasanya saat ada bunyi Guntur itu, kami merasa susah, senang bareng-bareng. Sedangkan Warangin itu artinya delapan mata angin. Seperti kata kang Angga, diharapkan angkatan K 15 ini bisa menjadi angin perubahan bagi KAPPA”, jawab Ucrit.
Setelah sarapan bersama dalam satu piring besar, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Sebelumnya, kang Joy menjanjikan sesuatu pada kami. Bila kami bisa sampai ke fikom besebelas ini, kami akan ditraktir makan Nasi Gila di kantin Mas B’jah. Siapa yang tidak semanget mendengar tawaran kang Joy. Akhirnya kami pun melangkah penuh semangat.
Hari semakin siang, tak terasa kami sudah berada di gerbang belakang Unpad. Rasanya
sungguh menyenangkan. “Raih kemenangan kalian ! Saya berjanji akan membawa kalian tiba di depan fikom ! Saya ingin semangat kalian berkali-kali lipat dari sebelumnya”, ucap kang Edo. Semangat pun membakar jiwa kami. Menuruni jalan, belok, melewati Balai Santika, menanjak, dan kami pun tiba di depan Fikom. “Sekarang, saya akan membawa kalian menuju Plasa Fikom. Saya minta kerjasama dari kalian. Semangati satu sama lain. Saya ingin semangat yang lebih dari kalian”, ucapnya kembali. Plasa meen !! Tinggal masuk, belok kiri, nyampe deh di Plasa. Namun, kebahagiaan akan rute yang kami pikir tadi hilang begitu saja ketika kang edo membawa kami turun ke arah Fisip. Demi apa jalannya muter???. Seketika itu pula semangat beberapa orang siantara kami hancur. –termasuk aku-. Namun kami ingat kata-kata kang Angga, “Semangat itu seperti penyakit. Menular. Maka dari itu, siapa yang bersemangat, maka tularkanlah dengan yang lain”. Sehingga kami pun mulai semangat lagi. Saling berpegangan tangan untuk menguatkan satu sama lain. Masih jelas dalam benakku saat kami berjalan bersama. Saat kami ditanya, “Siapa depan kalian? Belakang kalian? Samping Kalian? Karena kalian?”. Depan kami adalah saudara Kappa, belakang kami adalah saudara Kappa, samping kami adalah saudara Kappa karena kami dilahirkan dengan darah dan keringat yang sama. Itu. Itu yang selalu menjadi semangat bagi kami. Karena kami dilahirkan dengan darah dan keringat yang sama. Tak terasa, gerbang parker samping Fikom pun berada tepat di depan mata kami. Semangat untuk meraih kemenangan hari ini terus di lontarkan oleh Kang Angga. Teringat juga akan Nasi Gila yang dijanjikan kang Joy membuat kami semakin semangat. Kami pun berlari menuju Plasa Fikom. Wow! Banyak sekali orang di sana. Riuh tepuk tangan menyambut kami. Saudara kami dari mapala lain pun datang untuk menyambut kami, keluarga barunya. Ramai, ramai sekali saat itu. Rasanya bangga bisa kembali di tempat ini lagi. melihat nama kami yang masih terpampang di baligho tanpa ada satupun yang dicoret. Ya..bangga..sangat bangga. Terlebih setelah kami disematkan syal orange Kappa yang resmi. Bukan Basic Training, namun syal Kappa yang asli. Terimakasih untuk segalanya. Terimakasih untuk semangat yang luar biasa, yang entah bagaimana bisa kami mendapatkannya kalau bukan dari-Mu. Terimakasih juga buat akang dan teteh Kappa yang selalu membimbing kami. Pokonya, buat semua orang dan semua benda, terimakasih :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar