sehari sebelum esok, 26 mei 2012
malam hari sebelumnya, bundo berada di tempatku.
sudah lama ia tak bersua denganku di kamar ini.
tidak banyak yang berubah dari kamarku.
cuma tempelan besar berisi kenangan yang ku letakkan di dinding sebelah lemari percis.
kenangan yang membalut imajiku bila melihatnya.
layaknya
sebuah film dokumenter, otakku mulai memutar deretan film negatif
menjadi sebuah teater of mind yang membubuhi dan menambah rasa di sini,
yang sering kita sebut sebagai rindu.
layaknya anak kosan, namun sedikit tidak normal, kami pergi mencari makan di pukul 10.00.
warung yang beruntung kami datangi adalah PAJAWAN.
aku
memesan nasi ganteng, teh manis anget. dan bundo memesan BKI (bubur
kacang ijo) -dengan alasan karena ingin diet-, kami pun makan dengan
lahap.
bukan hanya makanan yang kami lahap, namun waktu pun kami lahap.
bertukar
cerita, dengan bumbu tertawa berdua, ya, hanya berdua. kami telah
terbiasa berdua untuk menghadapi hari kosong yang kita sebut gabut. waktu pun kami lahap hingga pukul 00.04.
setelah itu, kami pulang ke kosan masing-masing
* * *
hari sebelum esok.
aku dibangunkan oleh sms dari ketua BKI (bukan bubur kacang ijo).
sedikit malas untuk bangun, namun harus ttap bangun,
bukan hanya karena sms, namun juga karena perut.
ya.. akhir" ini perutku sedang di uji coba oleh Tuhan sepertinya.
(semoga kamu kuat, nak)
setelah
mandi dan cantik, aku pun bergegas pergi. namun, seperti biasa.
sepertinya wajib kupandangi wajah kalian satu persatu sebelum aku
matikan lampu dan mengunci kamar dari luar.
oke, dengan kecepatan 60km/jam, ku tarik gas motorku.
tiba" saat tikungan di lingkaran dekat rektorat, ku tarik kedua rem motor ku.
senyum mereka hadiahi untukku.
syal biru tua, topi rimba, tas besar yang kita kenal dengan nama carrier, menjadi point of interest dari mereka.
kulepas senyumku pada mereka, kemudian kutarik kembali laju motorku.
sampailah aku di Al-Wushul.
di sambutlah aku oleh para malaikat yang tak tampak, tapi bisa kita rasakan auranya.
nyatanya di dalam, para penghuni syurga bersiap-siap menjalankan strategi perang, menuju fikom madani :)
setelah di lewati beberapa jam, rapat pun selesai.
mereka pulang bersama, sedang aku pulang bersama si motor.
berpamitan pada mereka, dan melihat sepion yang memantulkan wajah riang para penghuni syurga yang berlatarkan gunung manglayang.
seketika lensa fokus mataku tertuju pada objek yang disebut MANGLAYANG.
ku perlambat laju si motor, mulai berimaji di kendaraan roda dua.
aku ingat kalian, saudaraku.
bagaimana hidup kita saat berada di manglayang.
rasanya hari itu adalah hari terakhir kita hidup.
aku ingat kalian, saudaraku.
saat kita makan rebung bersama.
memakan dedaunan pahit demi berlangsungnya hidup kita.
merasakan betapa hebatnya tamparan alam.
dan juga merasakan tamparan non-alam, hehe.
ingatkah kau dengan GUNTUR WARANGIN?
ku harap kau ingat.
nama yang kita bentuk saat mengelilingi bara api di fajar.
nama yang kita banggakan, sebagai bentuk bahwa kitalah angin perubahan itu.
nyatanya?
mungkin benar kata Pak Ojel, Lur.
"jangan hanya indah di atas kertas"
ya,, terlalu indahkah nama kita, Lur?
tau kah kalian?
aku ingin marah pada diriku sendiri, yang tak bisa menjaga 2 org saudara kita, hingga mereka ingin meninggalkan kita.
sekarang, kalian dan manglayang menambah rasa pedihku.
kalian, dan kau, manglayang.
kalian berdua membalutku dalam suatu kain tipis dingin menusuk batin.
yang kita sebut sebagai RINDU.
taukah kau apa itu rindu?
Rindu adalah Guntur Warangin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar