Selasa, 29 Januari 2013

bukan sekadar membirui jaket, tapi juga sekitarmu


27 Januari 2013
jurnalistik 11 fikom unpad

Tiba-tiba saja warna fajar tumpah ke dalam jaket baru kami yag disematkan masing-masing oleh senior yang saya sendiri tidak tahu dia siapa. Ya, inilah penghujung hari-hari ‘neraka’ kami sebagai adik baru dalam keluarga besar Jurnalistik Fikom Unpad.
“Ciee, yang dapet jas hujan biru,” itu lah sekiranya kata-kata yang menyambut kami.

Namun bagiku pribadi, pengakuan adalah lebih penting dibandingkan simbol ini. Pengakuan dari siapa? Tentu bukan hanya dari mereka yang lebih dahulu membiru hingga lusuh, tapi juga kaum yang lebih luas di luar lingkaran biru, terutama bagi mereka kaum malam lusuh.
Apa artinya biru ini bila kalian tak bisa memubuat LPJnya? Apa artinya dua garis putih bila nyatanya itu bisa dikalahkan dengan garis hijau, merah, biru?
Aku lebih memilih menempatkan diri pada posisi yang tak pantas. Memang bangga, bungah pasti, tapi jauh lebih dalam dari ke dua rasa itu, mencuat sebuah rasa tak pantas. Mungkin sekelibat dari kalian akan mengatakan aku manusia pesimis, tak berbangga diri. Memang, tapi untuk menjadi bangga, butuh waktu yang lama, pengorbanan yang banyak, tanggungjawab yang besar, dan pengakuan dari seluruh lapisan masyarakat.
Bapakku sendiri sebenarnya membenci posisiku mengapa aku bisa dan ingin mencintai ‘dunia ini’.
“Semua wartawan itu sama,” itu ucapnya.
Berat bukan memperoleh sebuah pengakuan. Jangankan mau dari seluruh lapisan, dari lingkaran keluarga sendiri saja aku tak tahu bisa atau tidak.
Semoga
Ya, semoga saja
Man jadda wa jadda
Fa inna ma’al usri yusro
Inna ma’al usri yusro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar