Tiba-tiba saja warna fajar tumpah ke dalam jaket baru kami
yag disematkan masing-masing oleh senior yang saya sendiri tidak tahu dia
siapa. Ya, inilah penghujung hari-hari ‘neraka’ kami sebagai adik baru dalam
keluarga besar Jurnalistik Fikom Unpad.
“Ciee, yang dapet jas hujan biru,” itu lah sekiranya
kata-kata yang menyambut kami.
Namun bagiku pribadi, pengakuan adalah lebih penting
dibandingkan simbol ini. Pengakuan dari siapa? Tentu bukan hanya dari mereka
yang lebih dahulu membiru hingga lusuh, tapi juga kaum yang lebih luas di luar
lingkaran biru, terutama bagi mereka kaum malam lusuh.
Apa artinya biru ini bila kalian tak bisa memubuat LPJnya?
Apa artinya dua garis putih bila nyatanya itu bisa dikalahkan dengan garis
hijau, merah, biru?
Aku lebih memilih menempatkan diri pada posisi yang tak
pantas. Memang bangga, bungah pasti, tapi jauh lebih dalam dari ke dua rasa
itu, mencuat sebuah rasa tak pantas. Mungkin sekelibat dari kalian akan
mengatakan aku manusia pesimis, tak berbangga diri. Memang, tapi untuk menjadi
bangga, butuh waktu yang lama, pengorbanan yang banyak, tanggungjawab yang
besar, dan pengakuan dari seluruh lapisan masyarakat.
Bapakku sendiri sebenarnya membenci posisiku mengapa aku
bisa dan ingin mencintai ‘dunia ini’.
“Semua wartawan itu sama,” itu ucapnya.
Berat bukan memperoleh sebuah pengakuan. Jangankan mau dari
seluruh lapisan, dari lingkaran keluarga sendiri saja aku tak tahu bisa atau
tidak.
Semoga
Ya, semoga saja
Man jadda wa jadda
Fa inna ma’al usri yusro
Inna ma’al usri yusro

Tidak ada komentar:
Posting Komentar