hehehe
banyak sekali postingan tentang hari pers di hari ini, kalau twitter atau blog sih ane gak tahu, tapi kalau facebook, bejibun gile dah !
semoga hari pers kali ini tidak menjadi uforia semata ya~
aamiin
kalau melihat beberapa waktu yang lalu, saat ane masih SD, rasanya aneh juga berada di posisi sekarang -sebagai mahasiswa jurnalistik-.
Dulu sewaktu SD, ane paling benci sama yang namanya berita karena setiap ane lagi nonton film kartun, Bapak pasti langsung memindahkan channel ke siaran berita.
Hal itu terkadang bikin ane frustasi sendiri karena kartu yang ane tonton lagi rame-ramenya.
"Apa pentingnya berita? Semuanya tentang kejahatan. Terus mau diapain? Paling ujung-ujungnya penjara lagi," kata Dina kecil.
"Apa pentingnya berita? Semuanya tentang kejahatan. Terus mau diapain? Paling ujung-ujungnya penjara lagi," kata Dina kecil.
Ya, kata-kata itu memang selalu muter-muter di kepala ane waktu ane masih bocah dulu.
Dan sekarang, ane malah kepencut sama nih dunia perjurnalistikan. hahahah
Aneh bukan?
Nyatanya dari sini ane belajar bahwa jangan pernah membenci sesuatu secara berlebihan karena bisa saja kamu akan balik menyukainya.
Well, balik ke topik kita tentang hari pers.
Ane bangga dah sama pers di Indonesia -meskipun tidak semua pers yaa- karena mereka sudah rela berkorban jiwa-raga -lagi-lagi tidak semua pers begini- demi terkuaknya sebuah kebenaran.
Masih ingatkah kalian dengan seorang wartawan yang bernama Udin?
Ane juga baru-baru baca tentang ni orang -waktu ada tugas OJ-.
Ia terpaksa harus menjadi Akhiruddin karena dibunuh oleh orang yang tak dikenal di depan rumahnya sendiri.
Amat mengenaskan memang, tapi ane yakin apa yang orang itu lakukan -mau pembunuhnya ataupun dalangnya- salah bila menafsirkan kematian seorang wartawan akan menjadi akhir dari kasus buruk mereka. Justru meninggalnya seoran wartawan akan melahirkan wartawan-wartawan lain yang memiliki jiwa dan bahkan keberanian melebihi wartawan yang ia bunuh, dalam contoh ini, Udin.
Namun, sekarang di Indonesia sendiri sudah berkurang pembunuhan -dalam arti sebenarnya- terhadap wartawan. Pemikiran para penguasa tampaknya sudah mulai canggih seiring berjalannya zaman. Begitu pula cara 'membunuh' pers di Indonesia, sudah mulai canggih.
Pers perlahan 'dibunuh' melaluli pekerjaan mereka sendiri.
Lihat saja koran berwarna merah, TV merah, dan TV biru itu memberitakan tentan apa.
Ya, tentunya tentang pendiri mereka masing-masing. Apalagi sekarang dekat-dekatnya pemilihan calon legislatif, makin banyak aja dah para penguasa yang memanfatkan pers sebagai alat pendukung mereka agar dipilih oleh rakyat.
Di sini lah pers menjadi dilema, antara idealisme dan profesionalisme dengan bisnis dan penyambung hidup.
Mangga weh wilujeng.
Mungkin memang kita sebagai mahasiswa yang masih menggebu-gebu meneriakkan kata kebenaran, objektivitas, verifikasi dan elemen-elemen lain yang disusun oleh Bill Covach, nyatanya hal tersebut takkan mudah lagi diteriakkan bila kita berada di posisi wartawan yang ada di media tersebut, terlebih lagi bila sudah menikah. Mau biayai istri dan anak pakai apa? Mau cari kerja lagi? Idup udah semakin sulit, kerjaan juga susah diperoleh. Masak yang sudah ada di depan mata dilepas begitu saja hanya karena tidak sesuai dengan ramuan Bill Covach?
Eits! Tunggu dulu!
Kata siapa sulit?
Nyatanya masih ada kok media independen yang mampu mempertahankan wasiat dari Bill Covach, yakni dua media yang sama-sama besar dan baru-baru ini memperoleh penghargaan emas (8/2) dari Serikat Perusahaan Pers di Manado, Kompas dan Tempo -selamat ya, cyiiin-.
Kompas memperoleh penghargaan dalam kategori perwajahan dalam dua edisi selama 2012, dan Tempo memperoleh penghargaan Majalah dan Koran terbaik.
Salut dah ane buat dua media ini.
Semoga makin banyak media kita yang berkembang dengan benar, bukan hanya baik.
Karena baik tidak selamanya benar, tapi benar sudah tentu baik.
oke sekian dari saya
penutupnya, semangat terus buat pers Indonesia!
selamat hari pers nasional!
toeeeet,.,toeeeeet,.,
selamat hari pers nasional!
toeeeet,.,toeeeeet,.,
("Selamat Malam Endonessaaaaahhhhhh" -Rana Akbari Fitriawan-)


daebaaaakk!! :D
BalasHapus